Pupuk Organik cair Biogan Melipatgandakan Produksi



Pupuk Organik Cair Ramuan Sujadi melipatgandakan produksi
Hasil Ramuan Pupuk Sujadi Kagetkan Petani

Satori (50), tidak mengira tanaman terungnya bisa berbuah sebesar paha dengan berat 1,3 kilogram atau hampir tiga kali lipat dari ukuran normalnya yang hanya sebesar tangan hanya dengan penyemprotan ramuan buatan Sujadi, petani yang masih satu desa .

Tapi itulah khasiat ramuan pupuk organik cair yang dibuat Sujadi, petani dari desa Pekantingan, kecamatan Klangenan, Kabupaten Cirebon, dengan melakukan pencampuran beberapa dedaunan yang melalui proses ekstrasi dan fermentasi.

Ramuan itu memang membuat para petani yang telah mencobanya menjadi kaget dan berdetak kagum.

Kacang panjang yang bisanya mempunyai rata-rata panjang 70 centimeter tiba-tiba bisa mencapai panjang 1,3 meter atau hampir dua kali lipat dengan diameter buah yang juga lebih besar.

Jika disemprotkan pada tanaman padi maka bisa meningkatkan hasil sampai 40 persen.

Adalah Munawir , petani dari Desa Kuniran, Kecamatan Kuniran, Kabupaten Bojonegoro yang petama kali mencoba ramuan Sujadi itu unutk kedele, padahal mulanyaPak Sujadi membuat ramuan itu khusus untuk tanman mangga agar cepat berbunga dan berbuah.

Munawir yang datang ke rumah pak Sujadi sebenarnya ingin membeli bibit mangga, namun iapun tertatarik dengan ramuan mangga itu dan diujicobakan pada tanaman kedele di Desa Kuniran.

Menurut Munawir yang juga pensiunan ABRI, ujicoba itu hampir membuat usaha kedele jadi rgi karena besar polong kedele sudah pecah dan biji kedele berserakan di tanah sehingga hanya sebagian kecil yang dapat selamat dipanen.

Ternyata salah satu efek ramuan itu membuat daun kedele tetap hijau walaupun polong sudah penuh berisi kedele yang siap dipanen, sedangkan pada keadaan normal biasnya daun kedele mulai menguning sebagai tanda tanaman kedele siap dipanen,
“Saya pikir ramuan itu salah karena daun kedele masih hijau padahal seharusnya sudah dipanen, namun ternyata saya yang salah karena sebenarnya kedele siap panen saat itu, “. katanya.

Namun ia bersyukur karena kerugian budidaya kedele itu bisa teretutui dari hasil kacang panjang yang haislnya berlipat tiga kali walaupun merupakan tanman sisipan ditanam di galangan kedele. “Kacang panjang lebih besar dan panjang dari biasanya karena ikut terkena semprotan ramuan itu,” katanya yang kemudian melaporkan pengalamannya itu kepada pak Sujadi.

Atas laporan itu pak Sujadi lalu membagikan ramuan cair atau pupuk cair yang kemudian dinamakan “ Biogan “ kepada para petani di sekitar desanya untuk diujicoba pada tanman padi dan terung.

Kasus lucu kembali terjadi setelah tiga petani dari Desa Kreo, tetangga desanya “complain” atas ramuan cair itu karena mentimunnya menjadi terlalu besar dan sulit dipasarkan, sehingga sang petani pun terancam rugi.

Akhirnya setelah mendapat saran Pak Sujadi, untuk mengurangi dosis dan empercepat panen dari tiga hari sekali menjadi satu hari sekali, petani mentimun itu malah unutung beripat-lipat.

Melihat Peluang
Sujadi yang di temui di laboratorium sederhananya mengatakan , keberhasilan ujicoba terhadap berbagai tanman baik padi dan palawija itu membuat dirinya melihat peluang bisnis dan mulailah ia menyempurnakan ramuan itu dibantu Ir. Edi Setiabudi, lulusan IPB Bogor tahun 1978 itu.

“ Dengan bantuan pak Edy akhirnya ramuan itu menjadi pupuk organik cair yang tidak saja berfungsi sebagai perangsang tumbih tapi juga sebagai pupuk yang bis amemperbaiki tingkat kesuburan tanah, “ kata Sujadi yang juga KontaklTani Nelayan Andalan (KTNA) di Kecamatan Klangenan.

Sementara menurut Ir Edy, yang dilakukan adalah mencoba metode baru untuk mengeluarkan zat penting dari iktan zat lain-nya yang ada di daun tanpa merusak zat tersebut sehingga cairan pupuk benar -benar bebas dari zat-zat yang merugikan pertumbuhan tanaman.

Salah satu perbedaan pupuk cair organik (POC) produksinya denga pupuk sejenis yang diperjualbelikan di toko-toko pertanian adalah kestabilan percepatan pertumbuhan.

Sebagai contoh bila obat lain digunakan untuk memacu pertumbuhan bunga dan buah dari mangga hanya kan bertahan beberapa tahun dan akan mengurangi produksinya dua tahun kemudian.

“Namun POC buatan Sujadi ternyata tidak merusak tanman bahkan mampu mempertahankan produksi mangga belasan kali panen ,” katanya.

Setelah proses produksi dianggap lebih empurna , mulailah ia membagikan POC itu pada petani padi dan palawija di sekitar desanya secara gratis sekaligus ia ingin mengetahui lebih jauh efek dari ramuan itu terhadap berbagai tanaman.

Juna Saswita, penyuluh pertanian yang mencobakan POC pada tanman padi di Desa Danawiangun Cirebon, mengungkapkan, selisih produksi antara padi yang menggunakan POC dan padi tanpa POC bisa mencapai 1,2 ton per hektar.

“Kebetulan petani padi di kanan dan kiri sawah saya tidak menggunakan POC sehingga bisa diketahui selisihnya , “ ungkap Juna yang baru mencobakan pada musim gadu kemarin.

Sementara hasil menakjubkan justru diperoleh Sukartawi, petani desa Losarang, kecamatan Losarang, kabupaten Indramayu yang mampu menghasilkan 8,7 ton gabah kering giling per hektar atau hampir dua kali liapt dari produksi sebelumnya yang hanya 4,5 ton per hektar.

Sukartawi mengungkapkan, ia mencoba merubah dosis rumus penyemprotan yang dianjurkan Sujadi yaitu 5 : 7 : 9 menjadi 9 : 7 : 5 artinya pada penyemprotan pertama dengan dosis sembilan botol perhektar, penyemprotan kedua dengan dosis tujuh botol dan penyemprotan ketiga lima botol per hektar.

“ Dengan rumus 5 : 7 : 9 sesuai anjuran diperkirakan hasilnya bisa naik 40 persen tapi setelah saya balik rumus itu ternyata malah bis anaik 100 persen atau dua kali lipat,” kata Sukartawi yang kahirnya mendundang pak Sujadi unutk syukuran atas keberhasilannya itu .

Menurut Sujadi, hampir semua tanman bisa dipacu produksinya seperti tanaman palawija yaitu kacang hijau, jagung, sayuran seperti kentang, sawi, kangkung , bayam , dan buah-buahan seperti semangka , pisang, jeruk dan kentang.

Cukup Murah
Harga jual itupun ditekan serendah mungkin yaitu hanya Rp3.000 per botol ukuran 120 ml untuk petani di sekitar Desa Pekantingan mereka atau Rp 4.000 per botol untuk petani daerah lain atau hanya sepertiga dari cairan sejenis yang dijual beberapa toko pertanian.

“Kita tidak begitu komersial karena tujuan semula hanya membantu petani meningkatkan produksinya dengan obat yang bisa terjangkau, ' katanya.

Sejak pertama kali memproduksi POC Agustus 1997, kapasitas produksi terus naik sesuai dengan permintaan pasar dan saat ini kapasitas produksi mencapai 3.000 liter POC per bulan yang dikemas dalam botol ukuran 120 ml , 500 ml, dan 3.000 ml.

Sementara untuk pemasaran POC, Sujadi ayah dengan empat anak, mengatakan, sampai saat ini masih mengandalkan para KTNA yang tersebar hampir disetiap kecamatan . “Petani dari KTNA biasanya merupakan inovator bagi petani lainnya sehingga suarnya bisa ditaati petani lainya, “ katanya.

Ia mengungkapkan, saat ini saja sudah ada pesanan dari petani KTNA di Kabupaten Subang dan Kabupaten Indramayu sebanyak 300 liter untuk musim tanam mendatang.

Ia mengungkapkan, POC itu sebenranya dibuat khusus unutk tanman mangga hasil okulasi sehingga tanaman itu akan mampu berbuah lebat walaupun hanya ditanam pada pot kecil ukuran diameter 30 centimeter.

Namun akibat serius dengan bisnis barunya itu akhirnya program tanman mangga menjadi terlantar sampai sekarang.
Sujadi mengatakan , ia juga akan mulai mencoba lagi tanaman mangga dalam pot sebagai saingan tanaman mangga yang ada di drum-drum besar .

“ Kalau mangga yang menghasilkan berbagai macam buah dalam pot kecil,” katnya tentang obsesinya itu.

Selain pupuk organik itu, Sujadi juga membuat dua peptisida alami, yang pertama diberi nama “Biotrop” atau ramuan tanman untuk menangulangi hama wereng , walang sangit, dan yang kedua diberi nama “ Buktrop” khusus untuk hama sundep dan klep yang menyerang tanaman padi.

Biotrop diluncurkan sekitar bulan maret 1998 , dan Buktrop beberapa bulan kemudian.

“Pembuatan ramuan peptisida alami itu juga atas permintaan petani yang sejak musim rendeng tahun lalu terserang hama wereng coklat,” katanya.

Menurut Sujadi, berkat beberapa kali ujicoba akhirnya saat ini POC dan peptisida alami dapat dicampurkan tanpa ada efek saling melemahkan sehingga petani dapat melakukan pemupukan dan pemberantasan hama dalam sekali semprot.
Sujadi juga mempunyai obsesi untuk memakmurkan petani Indonesia melalui ramuan yang dibuat dari berbagai tanman sehingga petani mampu meningkatkan produksinya tanpa tergantung obat-obtan kimia yang saat ini harganya melonjak tajam.

“Saya ini anak petani dan besar dari hasil pertanian, jadi saya juga ingin petani kita lebih maju dan makmur, “ katanya yang mendirikan CV KTNA .


Oleh Budi Santosa 1998


Komentar